Medan, KoranM24 – Menakar kisah romantisme bagi masyarakat Melayu pastinya melalui syair memiliki latar kisahnya, diantaranya lagu Mas Merah. Lagu Mas Merah sendiri memiliki latar kisah romantisme sepasang kekasih yang sehidup semati hingga ajal menjelang.
Kisahnya bermula pada tahun 1890, seorang pria bernama Salam tinggal di Serawak, Malaysia dan mempunyai abang bernama Amran.
Salam yang telah menjalin hubungan secara Diam-diam dengan gadis bernama Rukiah. Hubungan ini tidak diketahui oleh orangtua Salam.Rukiah, seorang gadis baik dan berparas cantik.
Selanjutnya ayah Salam yang ingin menikahkan Amran dengan seorang gadis, hal itu ditanyakan ke Amran, ternyata pilihan Satu-satunya gadis yang baik dan cantik di daerah Serawak hanyalah Rukiah. Mengetahui hal itu, Salam yang merasa kecewa, akhirnya meninggalkan negeri Serawak.
Di Perantauan ke Tanah Deli, Slam yang merupakan pemain biola dan terkenal mahir, dalam satu pementasan, Salam bertemu dengan Salmah yang merupakan adalah kembang di tanah Labuhan Deli, hingga keduanya saling berdekatan tanpa ada yang mengetahuinya, termasuk keluarga Salmah.
Namun, dikarenakan Ayah Salmah, H Kasim yang ada ikatan hutang piutang, akhirnya Salmah dikawinkan dengan orang kaya berketurunan India bernama Tambi.
Hal itu menimbulkan kesedihan Salam, parahnya, disaat acara perkawinan Salmah dengan Tambi, Salam diundang untuk mengisi acara. Dan saat memainkan biola, Salam sambil menyanyikan sebuah lagu yang berjudul “Kau adalah Mas Merahku”, dengan Isi bait dari lagunya seperti :
“Sayang Mas Merah jangan merajuk.
Mari kemari abang nan bujuk.
Kalau ada penawar yang sejuk.
Racun kuminum haram tak mabuk.
Sayang selasih dibawa pulang.
Mekar satu di atas peti.
Sayang kekasih Mas Merahku sayang.
Biar Bang Salam membawa diri”.
Mendengar bait ini, Salmah langsung jatuh pingsan. Masyarakat sekitar tidak mengetahui bahwa Salmah adalah Mas Merah yang disebut Salam dalam lagunya.
Setelah kejadian itu, Salam kembali berputus asa dan kemudian pergi ke laut untuk menjadi nelayan di daerah Pangkalan Brandan.
Dalam melaut selama Berbulan-bulan, akhirnya Salam dapat melupakan Salmah. Namun disini lain, Salmah dalam pernikahannya dengan Tambi tidak bahagia, hingga akhirnya keduanya berpisah.
Disisi lain, pada masa itu, masyarakat melayu dalam melaksanakan bertempat tinggal, akan membuka wilayah baru, diantarnya adalah Pulau Kampai, merupakan hutan yang lebat.
Dalam membuka wilayah baru, sebagai orang yang dituakan di daerah tersebut, H. Makminias, meminta bantuan kepada H.Kasim, yang tak lain adalah ayah Salmah yang tinggal di Labuhan.
Maka H.Makminias menjemput H. Kasim beserta anaknya Salmah. Namun di tengah perjalanan, mereka dirampok penyamun ditengah laut Mereka diikat di tiang layar. Salmah dibawa ke tempat para penyamun dan ia berteriak meminta pertolongan.
Bersamaan juga, Salam bersama temannya Husein sedang melaut di kawasan itu. Mendengar teriakan seorang wanita, Salam hendak menolong namun dihalangi oleh Husein. Namun keinginan Salam untuk menolong tidak bisa dihalangi oleh temannya Husein. Akhirnya terjadilah perkelahian antara penyamun dengan Salam. Saat itulah bertemulah Salam dengan Salmah. H. Kasim yang awalnya tidak menyukai Salam akhirnya berbaik hati.
Setelah pertemuan itu, Salam yang selalu ditemani biolanya, kerab memainkan biolanya dengan menyanyikan lagu “Kau adalah Mas Merahku”.
Akhirnya Salam yang dulunya menjual ikan di Pulau Sembilan dan Brandan, kini hanya menjual ikannya di Pulau Kampai, lalu atas bantuan Awang Mauhammadin. Lalu Salam dan Salmah dikawinkan hingga masa sepuluh tahun dan tidak mempunyai keturunan.
Kemudian pada tahun selanjutnya penyakit cacar mewabah. Dan pada tahun 1920, tepatnya pada hari Jumat pukul 05.00 subuh, Salam yang terkena cacar, akhirnya meninggal dunia dan disusul oleh disusul satu jam kemudian oleh Salmah yang juga terjangkit cacar.
Sebelum meninggal, Salam yang mengetahui istrinya juga dalam keadaan sakit, sempat berpesan kepada temannya Husein, agar dimakamkan di dekat istrinya dan di pusaranya ditanamkan bunga tanjung di kuburan kami berdua.
Anyang Buas-Buas Kuliner Tradisional Khas Masyarakat Melayu Labuhanbatu Pesisir Sumatera Utara
“Bunga tanjung yang ditanam adalah kisah perjalanan cinta Salam sebagai tanda antara Semenanjung Serawak Malaysia, Labuhan Deli dan Pulau Kampai, Langkat”
Kisah ini disampaikan secara lisan dan hidup di masyarakat Melayu, Makam Sepasang Kekasih ini dapat di temukan di Pulau Kampai dan dimakamkan berdampingan.






