Medan, KoranM24 – Tari Serampang XII merupakan salah satu dari sekian banyak tarian yang berkembang di bawah Kesultanan Serdang, Kabupaten Serdang Bedagai (dahulu Kabupaten Deli Serdang). Tari ini merupakan jenis tari tradisional yang dimainkan sebagai tari pergaulan yang mengandung pesan tentang perjalanan kisah anak muda dalam mencari jodoh, mulai dari perkenalan sampai memasuki tahap pernikahan.
Tarian Inilah salah satu cara masyarakat Melayu dalam mengajarkan tata cara pencarian jodoh kepada generasi muda, sehingga Tari Serampang Dua Belas menjadi kegemaran bagi generasi muda untuk mempelajari proses yang akan dilalui nantinya jika ingin membangun mahligai rumah tangga.
Nama Tari Serampang Dua Belas, dahulu lebih dikenal dengan nama Tari Pulau Sari. Hal ini mengacu pada judul lagu yang mengiringi tarian tersebut, yaitu lagu Pulau Sari. Tarian ini diciptakan oleh Sauti pada era 1940-an dan digubah ulang antara tahun 1950—1960.
Sauti yang lahir pada tahun 1903 di Pantai Cermin, ketika menciptakan Tari Serampang Dua Belas pada masa itu, bertugas di Dinas PP&K Provinsi Sumatra Utara. Atas inisiatif dari Dinas yang menaunginya, Sauti diperbantukan menjadi guru di Perwakilan Jawatan Kebudayaan Sumatera Utara di Medan. Pada masa itulah sauti menciptakan beberapa kreasi tari yang terkenal hingga sekarang, termasuk Tari Serampang Dua Belas.
Selain Tari Serampang Dua Belas, Sauti juga berhasil menggubah beberapa tari lain, yaitu tari jenis Tiga Serangkai yang terdiri dari Tari Senandung dengan lagu Kuala Deli, Tari Mak Inang dengan lagu Mak Inang Pulau Kampai dan Tari Lagu Dua dengan lagu Tanjung Katung.
Pada awal perkembangannya, Tari Serampang Dua Belas hanya boleh dibawakan oleh laki-laki. Hal ini karena kondisi masyarakat pada waktu itu melarang perempuan tampil di depan umum, apalagi memperlihatkan Lenggak-lenggok tubuhnya.
Tetapi dengan perkembangan zaman, dimana perempuan sudah dapat berpartisipasi secara lebih leluasa dalam segala kegiatan, maka Tari Serampang Dua Belas kemudian dimainkan secara berpasangan antara laki-laki dan perempuan diberbagai pesta dan pertunjukan.
Hingga saat ini, Tari Serampang Dua Belas sudah berkembang ke beberapa daerah di Indonesia selain Sumatra Utara, seperti Riau, Jambi, Kalimantan, Sulawesi, bahkan sampai ke Maluku.
Selain dikenal dan dimainkan di seluruh tanah air, Tari Serampang Dua Belas juga terkenal dan sering dibawakan di beberapa negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Hongkong.
Keberadaan Tari Serampang Dua Belas karya Sauti ini, mendapat sambutan yang luar biasa di seluruh tanah air dan negara tetangga. Seiring dengan perkembangan, Pemerintah Daerah Kabupaten Serdang Bedagai berinisiatif untuk melindungi hak cipta tari ini sebagai aset dan kekayaan daerah tersebut. Untuk mendukung rencana ini, maka pemerintah setempat mengadakan seminar mengenai Tari Serampang Dua Belas.
Tari Serampang Dua Belas tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dengan Nomor Registrasi 201400086 dan Guru Sauti diberikan penghargaan kebudayaan berupa Satya Lencana Kebudayaan oleh Pemerintah Republik Indonesia.
Perjalanan tari Serampang Dua Belas dan Guru Sauti memiliki sejarah panjang dan pada Masa keemasan tari Melayu di tangan Sauti semakin cemerlang dimana pada tahun 1954 Guru Sauti ditunjuk untuk memimpin duta seni Sumatera Utara ke RRC, negara tirai bambu itu, Sauti sempat mengajarkan tari Melayu pada Akademi Seni Tari di Peking.
Setahun berikutnya pada tahun 1955, sebuah perusahaan film di Jakarta Radial Film Coy membuat film Serampang Dua Belas, dimana Sauti langsung sebagai bintang utamanya. Menurut Almarhum OK. Habibullah (di Batang Kuis), ia sempat menyaksikan film tersebut dan penontonnya sangat membludak, hingga gedungnya terasa sesak. Sukses dengan film Serampang Dua Belas, Radial Film Coy menggarap film Tanjung Katung dan Guru Sauti tetap menjadi bintang utamanya.
Guru Sauti diminta mengajarkan Tari Serampang Dua Belas kepada Ibu Fatmawati Soekarno, Ibu Rahmi Hatta dan beberapa istri pejabat lainnya di era Soekarno.
Selanjutnya Guru Sauti dipercaya mementaskan Tari Serampang Dua Belas menyambut misi kebudayaan India dan Yogja, dalam rangka 200 tahun kota Yogja.
Kini Tari Serampang Duabelas yang telah tercatat Penerima penghargaan dari Museum Rekor Indonesia ( MURI), diterima oleh Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai dalam Pagelaran Tari Serampang Dua Belas terbanyak yang diikuti 4.320 Peserta, dimna kegiatan itu dilakukan untuk memperkenalkan kembali kepada masyarakat tentang asal muasal dari tari tersebut, sehingga generasi muda paham dan mengerti.
Selain itu, dalam kegiatan tersebut, juga diadakan berbagai pagelaran lomba Tari Serampang Dua Belas, terutama untuk kalangan masyarakat yang berada di kawasan Kabupaten Serdang Bedagai.
Mengenang Sauti, dapat dilihat dari bangunan rumah peninggalan Guru Sauti yang masih dapat dilihat di Kota Perbaungan, sekarang menjadi Kedai Kopi Sehati dengan menyajikan makanan khas Roti Bakar dan Pulut Bakar khas Melayu.






