Budaya

Pulo Brayan, Pulau Kecil Dikelilingi Sungai Deli yang Berayun

×

Pulo Brayan, Pulau Kecil Dikelilingi Sungai Deli yang Berayun

Sebarkan artikel ini

Medan, KoranM24 – Pulo Brayan mungkin sudah tidak asing bagi warga Kota Medan yang sering melintasi jalan menuju ke Belawan, terletak di kawasan padat penduduk, tepatnya 5 Km dari pusat Kota Medan, dimana Pulo Brayan adalah salah satu Kelurahan di Kecamatan Medan Barat, bagi yang bertempat tinggal di kawasan jalan Kolonel Laut (KL) Yos Sudarso dan sekitarnya dengan kawasan pasar yang selalu ramai, baik di Hari-hari biasa, maupun di hari libur.

Inilah Pulo Brayan namanya, Kawasan pasar dan pertokoan yang juga dikenal dengan “Pajak Brayan”, berlokasi di pangkal bilangan jalan KL Yos Sudarso, berbatasan dengan kawasan-kawasan lain seperti jalan Bilal dan Helvetia.

Sekilas, Pulo Brayan tampak sama seperti Pasar-pasar lainnya di penjuru kota hingga desa di Indonesia, tapi ada cerita menarik seputar Asal-usul nama Pulo Brayan yang tidak banyak diketahui masyarakat sekitar, bahwa di lokasi yang aslinya sebuah Kecamatan ini, konon kata Pulo dan Brayan, adalah serapan dari Bahasa Melayu yang berarti Pulau dan Berayun.

Maka sebutan menjadi pulau yang berayun, setidaknya begitulah kebanyakan cerita dari versi sejumlah orang yang mengetahui Seluk-beluk Pulo Brayan ini. Bisa jadi bukan sekedar dongeng seperti Siti Nurbaya ataupun Malin Kundang.

Konon, Kecamatan Pulo Brayan ini adalah sebuah pulau kecil yang dikelilingi sungai Deli yang terkenal, saking kecilnya, pulau ini sering Bergoyang-goyang seperti perahu, sehingga disebut sebagai pulau yang berayun, atau dalam Bahasa Melayu, “Pulo Berayun”.

Lama-kelamaan, lidah masyarakat telah terbiasa mengucapkannya Pulo Brayan saja, sehingga lebih dikenal dengan kata Pulo Brayan hingga sekarang.

Di Pulo Brayan masih dapat ditemukan bangunan lama peninggalan masa kolonial, berupa bekas Stasiun Kereta Api yang juga sebagai bengkel kereta api pada masa kolonial belanda. Dan ada juga yang menyatakan Kota Brayan dari nama seorang belanda bernama Bryan.

Sedikit yang berhubungan langsung dengan Asl-usul Pulo Brayan, seperti Guru Patimpus, Putera Karo bermarga Sembiring Pelawi yang mendirikan sebuah kampung bernama Kampung Medan Putri, sekitar tahun 1590-an.

Guru Patimpus memiliki isteri seorang putri Datuk Pulo Brayan. Lebih lanjut, disebutkan pada masa lalu, Kota Medan adalah titik pertemuan dua buah sungai yaitu Sungai Deli dan Sungai Babura. Ini rasanya cukup menjelaskan bahwa Kota Medan pada masa lalu memiliki lebih banyak kawasan perairan.Hal itu dapat ditemukan hingga sekarang nama daerah sekitar Pulo Brayan, seperti Tanjung Mulia dan Batu Enam.

Bagaimanapun ceritanya, Pulo Brayan masih menjadi salah satu pusat perekonomian masyarakat Medan Barat dan sekitarnya. Diharapkan semakin tertib semenjak adanya fly-over yang suka Goyang-goyang itu, jika kendaraan buatan berat melewatinya. Kebetulan, beberapa orang menyebutnya “Titi Brayan”, secara etimologis berarti titi yang berayun.