Sejarah Datuk Besitang di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, mengacu pada dua narasi yang saling berkaitan, yakni wilayah pesisir perairan Besitang (pantai) dan kisah kepahlawanan lokal.

Latar Belakang Kecamatan Besitang di Langkat menyimpan sejarah panjang yang berawal dari pusat Kerajaan Aru di masa lampau. Setelah kerajaan tersebut dihapuskan oleh Kesultanan Aceh pada sekitar abad ke-17, wilayah Besitang berubah menjadi kawasan setingkat kedatukan atau kejeruan. Kawasan kedatukan ini dipimpin oleh para tokoh bergelar Datuk, yang menjadi perpanjangan tangan Kesultanan Langkat dan Kesultanan Aceh untuk menjaga keamanan dan kesejahteraan pesisir timur Sumatra.
Tokoh Kepahlawanan Datuk Besitang (Tengku Datuk Nurdin) sangat melekat dengan sosok pejuang kemerdekaan yang bergelar Setia Bakti Besitang. Beliau tercatat sebagai panglima perang Kesultanan Langkat yang sangat menentang penjajahan. Menjelang kemerdekaan, beliau bergerilya dan berhasil melucuti markas serta membunuh sejumlah tentara Jepang di stasiun Kereta Api Besitang pada 15 Desember 1945.
Keesokan harinya, Jepang membalas dan menyergap beliau.

Datuk Besitang dikabarkan dijaring dan dibuang ke sungai, namun berhasil melepaskan diri sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir akibat pertempuran tersebut.
Jenazah beliau dimakamkan di Kampung Lama, Besitang. Di wilayah ini juga berdiri masjid yang menjadi situs sejarah dibangun oleh keluarga Datuk.
Situs Pantai Buaya dan Misteri “Datuk Pantai”
Istilah “Pantai Buaya” sering dikaitkan oleh masyarakat lokal dengan wilayah perairan dan muara di kawasan pesisir Besitang yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka. Sungai dan muara Besitang dulunya menjadi jalur pelayaran penting dari Kerajaan Aru. Dalam tradisi lisan dan folklor Melayu Langkat, terdapat berbagai kisah mistis dan legenda masyarakat mengenai penunggu muara atau sosok gaib yang menjaga wilayah perairan tersebut. Di pesisir wilayah Langkat juga dikenal istilah adat dan kejeruan lain, seperti Datuk Pantai Cermin.
Untuk mengenang jasa perjuangan para datuk di masa lampau, masyarakat dan pemerintah daerah kerap melakukan ziarah ke makam para pejuang, termasuk Kompleks Makam Datuk di Kampung Lama dan Masjid Datuk Johan Pahlawan yang sudah berusia ratusan tahun. (Wd)








