Medan,KoranM24-Jejak peradaban masa lalu dapat direka ulang dengan tekhnologi masa kini. Hal itu dapat dilakukan rekontruksi dan dengan menggunakan ilmu Topografi dan diselaraskan dengan Folklore yang merupakan cerita yang tumbuh dan hidup dimasyarakat, serta jejak artefak peninggalan masa lalu dan arsip yang tersimpan di Leiden University.
Ujung Tanjung, tepatnya sebuah wilayah nan elok yang merupakan pulau kecil, berada dipertemuan Sungai Batang Durian, dimana sungai yang menuju ke Istana Darussalam dan Sungai Batang Serangan. Di pulau jecil ini berdiri Puri Istana Tengku Hamzah Al Hajj Indra Diraja Langkat dengan gelar Pangeran Tanjung.
Di tapak Puri Istana Pangeran Tanjung yang berada di Ujung Tanjung, masyarakat setempat sering melihat pada Malam-malam tertentu, dapat melihat Katil atau tempat tidur yang berada di areal bekas Tapak Puri Istana, masyarakat menyebut lokasi tersebut dengan nama Paya Katil
Secara administratif pada masa lampau, wilayah Pulau tempat Puri Istana Pangeran Tanjung Bahagian Tanjioeng Pura, namun perkembangan wilayah administratif pemerintah Kabupaten Langkat, wilayah ini berada pada Kecamatan Hinai, tepatnya Desa Cempa, secara kontur geografis pulau yang merupakan areal kawasan Ujung Tanjung ini, memiliki struktur kontur dengan derajat ketinggian yang berbeda setiap hamparannya dan Tapak Puri Istana memiliki ketinggian yang relatif tinggi diatas permukaan sungai .
Dalam arsip yang tersimpan di Leiden University dengan judul Woning van Pangeran Indera Diraja te Tandjong Poera, Langkat jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berbunyi kediaman Pangeran Indera Diraja di Tanjung Pura, Langkat dengan waktu pengambilan, sekitar tahun 1890–1898, masa saat itu Tengku Hamzah Al Hajj menjabat sebagai pemimpin Luhak Langkat Hilir dan berpusat di Tanjung Pura.
Arsip yang tertera dicatat langsung oleh pejabat administrasi Hindia Belanda saat itu, bukan catatan turunan atau dugaan belakangan, dimana disebutkan “Pangeran Tandjong” adalah Gelar Pangeran Tandjong Poera, sebutan umum pada masa itu untuk pemimpin yang berkedudukan di pusat pemerintahan Tanjung Pura. Hal Ini merujuk pada orang yang sama yaitu Tengku Hamzah Al Hajj bergelar Pangeran Indera Diraja.
Bentuk Bangunan, Puri Istana Pangeran Tanjung berbentuk Rumah panggung kayu ulin, atap limas berlapis, gaya arsitektur khas puri pemimpin wilayah Langkat Hilir, berbeda dengan Istana Sultan di Kota Langkat atau Istana Maimun, persis seperti tingkatan pangkatnya. Orientasi menghadap ke arah utara menuju jalur perdagangan dan tepi sungai Batang Sarangan, cocok dengan tata letak pemerintahan lama yang berbasis aliran sungai.
Puri Istana Pangeran Tanjung ini khusus dibina untuk Pangeran Indera Diraja, pemimpin wilayah Langkat Hilir, bentuknya sederhana, namun tetap memegang adat Kerajaan Langkat, Tampilan dalam struktur bangunan ini sendiri telah reka ulang, seperti photo aslinya yang berbentuk hitam putih.
Sumber : Leiden University
Kajian Oleh Yayasan Ujung Tanjung Langkat.






