Budaya

Kota Medan Paris Van Soematra

×

Kota Medan Paris Van Soematra

Sebarkan artikel ini

Medan, KoranM24 – Kota selalu menjadi bahan yang menarik untuk diperbincangkan, ketika nama Paris melekat pada sebuah kota di Pulau Java, sehingga disebut Paris Van Java.

Ungkapan ini merupakan sebuah harapan agar kota menjadi seperti kota yang berada di Eropah, terlepas perdebatan yang tidak berkesudahan tentang sejarah Kota Medan Itu sendiri.

Paris van Soematra adalah pujian yang mengiringi nama sebuah kota di Pulau Soematra akhir abad ke 19, pujian tersebut menunjukkan kebahagian dan kebanggaan pada kota yang mereka bangun. Kesuksesan kota baru yang disebut Kampung Medan Putri sebagai ibukota Keresidenan Soematra Timoer semakin terkenal di Semenanjung Malaya dan Java, kemashuran di daratan Eropah dengan tembakau deli sebagai pembalut cerutu yang terbaik.

Berkat kemakmurannya, orang lebih mengidentikkan Medan sebagai Deli, pamor Laboehan sebagai ibukota Deli mulai meredup. Pada masa itu masyarakat eropah mengidentikkan Medan adalah Deli.

Pada tahun 1891 Masehi, Sultan Makmun Perkasa Alam memindahkan ibukota Kesultanan Deli dari Laboehan ke Deli, sebagai sebuah kota, dimana memiliki 44 Onderneming perkebunan.

Medan terkonsentrasi atas dua wilayah utama, Sultangrond didaerah Kota Matsum yang menjadi ibukota Kesultanan Deli dan Geemente Medan sebagai Keresidenan Soematra Timoer. Pembedaan tersebut untuk mempermudahkan pengaturan orang yang menjadi warga kesultanan dan warga gemente.

Medan sebagai pusat Keresidenan Soematra Timoer pada tahun 1915 Masehi, statusnya ditingkatkan menjadi Goevernor dengan dukungan fasilitas, dimana pusat kawasan Medan adalah Esplande yang disekitarnya berdiri Medan Stadhuis, De Javasvhe Bank, Hotel De Boer, Kantor Pos Besar, Rumah Sakit Deli, Stadion, Kereta Api, dan pusat perdagangan Kesawan, serta Lapangan Merdeka.

Kemashuran Medan mendasari Van Der Hoop, Van Den Broeken dan V.W.Poelman untuk menerbangkan pesawat Fooker dari Eropah ke Medan. Masa itu Medan belum memiliki landasan pacu untuk pesawat terbang, atas inisiatif, diatas tanah konsesi milik perkebunan Polonia yang merupakan lapangan pacuan kuda, dibuatkan landasan sementara. Pada tahun 1924 dicatatkan awal Medan memulai transportasi udara.

Lalu, revolusi sosial tahun 1946, menjadi peristiwa yang mengakhiri kemashuran nama Paris Van Soematra yang dapat dilihat dan ditemukan dalam visual dokumentasi dan sisa bangunan bangunan yang masih ada.

“Paris Van Soematra Kisah yang tak seindah perjalanan hidup diatasnya.”

© disarikan dari buku parijs van soematra ; alexander avan.