Medan,KoranM24-Dalam beberapa literasi Chempa atau Cempa, adalah jenis tanaman bunga dengan nama Cempaka, di Aceh dikenal sebagai bungong jeumpa, di Sunda disebut campaka, dalam bahasa Jawa pohon itu disebut Kanthil yang berasal dari India dan menjadi sumber wewangian.
Cempa atau Campa dalam catatan sejarah adalah Kerarajaan yang masyhur dimasa lalu, berada di wilayah Vietnam Selatan. Kerajaan Champa pada abad ke-14 menjadi Kerajaan Islam dengan pusat pemerintahannya berada di Kota Indrapura, sebuah kota yang maju karena didukung oleh pelabuhannya, sebagai tempat perdagangan internasional. Selain itu, Champa juga berhasil menguasai perdagangan Rempah-rempah dan sutra di Asia Tenggara.
Raja Che Bong Nga, yang memerintah antara tahun 1360-1390, Raja Champa pertama yang beragama Islam. Raja Che Bong Nga diislamkan oleh Habib Sayyid Husein Jumadil Kubro, berasal dari Timur Tengah.

Setelah itu, Che Bong Nga berganti nama menjadi Sultan Zainal Abidin, dan Champa berubah menjadi Kerajaan Islam. Pengaruh Islam semakin berkembang di Champa pada abad ke-15, dimana penduduknya banyak yang menjadi Muslim. Kemudian, pada sekitar abad ke-17, banyak bangsawan Champa yang mulai memeluk agama Islam.
Berkembangnya Islam di Champa juga berpengaruh besar terhadap keislaman di Nusantara, sebagai penyebar Islam di Jawa, salah satunya keturunan Kerajaan Champa, Putra Jumadil Kubro yang bernama Ibrahim Zainuddin Al Akbar As Samarqandiy atau Ibrahim Asmoro, menikah dengan Chandra Wulan, Putri Raja Champa, keduanya tak lain orang tua Sunan Ampel.
Tidak hanya itu, Sultan Maulana Sharif Abdullah Mahmud Umdatuddin atau Wan Bo Tri Tri yang meneruskan jabatan Raja Champa periode tahun 1471-1478, menikah dengan Nyi Mas Rara Santang, Putri Prabu Siliwangi dari Padjajaran, keduanya mempunyai putra yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati.

Konflik antara Champa dan Khmer berlangsung sejak abad ke-10 hingga abad ke-15, ketika Kota Vijaya dihancurkan oleh Khmer. Kehancuran Vijaya ini berdampak pada tewasnya sekitar puluhan ribu orang, akibatnya banyak masyarakat Islam Champa yang kemudian bermigrasi ke Kamboja, Malaka, Aceh dan Sumatera.
Selain konflik dengan Khmer, Champa juga mengalami serangan dari penguasa lain di Vietnam. Riwayat Kerajaan Champa berakhir pada tahun 1832, setelah dihapuskan oleh Kaisar Ming.
Di Sumatera Timur, tepatnya Kampung Cempa adalah bagian dari wilayah Kesultanan Langkat, memiliki lembaga adat bernama Kedatukan Cempa. Di Desa Cempa, tepatnya di Ujung Tanjung yang berada di Tepian aliran sungai Batang Serangan, adanya beberapa makam tua,vdiantaranya makam Hj Maryam bin Imam Sutan, istri dari Sultan Musa Muazzamahah dan ibu dari Tengku Hamzah Al Hajj Indra Diraja Langkat yang ditarik susur galurnya memiliki hubungan dengan Kerajaan Champa dan Patani.
Menatap Jauh di rerimbunan pohon diatas benteng jalan Tanjung, seperti membentuk hiasan naga berarak dan hasil dari peta satelit, wilayah makam yang berada di wilayah Desa Cempa, Kecamatan Hinai, seperti lambang yang memiliki makna tertentu.
Simbol naga air adalah berlambang kemakmuran dan dijadikan simbol pada Raja-raja masa lampau, termasuk pada Kesultanan Langkat dengan Simbol Dua Naga.






