Medan, KoranM24 – Sebagai kota yang berada di tepian sungai Wampu, Stabat memiliki peran penting dari zaman di era Kesultanan Langkat, dimana berdiri Kerajaan Stabat dengan memiliki wilayah otonom, dimana mencatatkan seorang pahlawan, berasal dari bangsawan Melayu yang telah melawan belanda bernama Tan Matsyeh.
Sebagai wilayah yang strategis pada masa pendudukan Jepang , tentara Jepang telah membangun bunker di sekitar sungai Wampu, Kota Stabat, untuk mengantisipasi kedatangan sekutu pada tahun 1942, dimana pada akhirnya bungker yang dibangun Jepang tidak dipergunakan, dikarenakan setelah jatuhnya Bom Hiroshima dan Nagasaki, membuat tentara Jepang menyerah kalah, sehingga bungker yang dibangun Jepang dimanfaatkan oleh tentara Belanda.

Kejatuhan Jepang sendiri tidak serta merta memberikan kebebasan sepenuhnya pada Indonesia. Setelah diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia, Belanda dibonceng oleh tentara sekutu melakukan agresinya, hingga Meletuslah pertempuran yang hebat di Kota Stabat, tepatnya di areal Sungai Wampu.
Pertempuran sengit ini terjadi pada tanggal 27 hingga 30 Juli 1947 di Kota Stabat dan Titi Sei Wampu Langkat. Pada masa itu pasukan dari Aceh dikerahkan untuk membantu pertahanan front Pertempuran Medan Area.
Namun, dihadapi para pejuang dari Aceh dan Sumatera Timur saat itu bukanlah pasukan biasa, tapi tentara Belanda dari Batalyon OVW 4-2 RI yang terkenal tangguh dan gigih. Tapi dengan bala bantuan, senjata dan amunisi yang dipasok dari Aceh, pasukan belanda dapat dihalau.
Kisah perang di Stabat dan Titi Sei Wampu itu dapat dibaca dalam buku yang bertajuk ” Kisah Dari Pedalaman, Perang Kemerdekaan RI dalam daerah Sumatera Utara dan Aceh Menentang Penjajah” . Buku ini ditulis oleh Kolonel Arifin Pulungan, salah pelaku sejarah perjuangan kemerdekaan di front Medan Area.
Perang yang bersejarah dan penting ini, menyebabkan terdesaknya pasukan Belanda, karena pertempuran yang sengit, pihak Belanda juga menulis peristiwa perang Stabat dan Titi Sei Wampu itu dalam buku berjudul ‘Indonesie, Nedrland en de Wereld pada halaman Hurbertus Johannes Van Mook, mantan Gubernur Jendral Hindia Belanda (1942-1948), yang di tuliskan dalam bukunya.






