Budaya

Sejarah Simpang Tiga Perbaungan Kota Galuh

×

Sejarah Simpang Tiga Perbaungan Kota Galuh

Sebarkan artikel ini

Medan,KoranM24-Khazanah budaya Melayu di Pesisir Timur Sumatera tidak dapat dipisahkan dari kejayaan masa silam dengan berdirinya Kerajaan, maupun Kesultanan yang ada.
Kejayaan yang ada tersebut semakin terasa kompleks dengan sejarah panjang dua buah Kerajaan dan Kesultanan yang menjadi dasar berdirinya sebuah Kabupaten Serdang dan Bedagai, merupakan pemekaran dari Kabupaten Deli Serdang.

Kekuasaan Kesultanan Serdang yang meliputi wilayah Percut Sei Tuan, menjadi perbatasan wilayah Kesultanan Deli (yang akhirnya menjadi bagian dari Kesultanan Deli selanjutnya).
Sebuah bangunan monumental yang dibangun pada 1889 dan menjadi bangunan permanen pada 1901, berdiri megah di salah satu sudut Kota Perbaungan. Bangunan berupa Masjid ini merupakan salah satu mahakarya dari Kesultanan Serdang, dimana Kota Perbaungan menjadi pusat Kerajaan Serdang kala itu.


Bangunan masjid ini dibangun di era Sultan Sulaiman Shariful Alamsyah, Sultan Serdang ke-5, bersamaan dengan pembangunan Istana Darul Arif yang dahulu terletak tak jauh dari masjid berada, dikenal dengan Istana Kota Galuh. Namun sayang, politik bumi hangus yang juga dilancarkan pula di Serdang pada tahun 1946, melenyapkan mahakarya istana yang megah dan sangat indah itu.
Bangunan masjid yang bernama Masjid Raya Sulaimaniyah ini sangat mencolok berkat warnanya yang khas, perpaduan kuning, dimana daun jendelanya dihias warna hijau, serta bagian atas masjid tidak menggunakan kubah.
Bangunan fisik masjid secara keseluruhan sangat dipengaruhi oleh bentuk bangunan bergaya Melayu dan Timur Tengah. Beberapa bagian seperti ornamen pada daun pintu, atap mahligai dan tentu saja mimbar masjid, menjadikannya bagian paling khas.

Dalam catatan prasasti yang tampilkan di dinding masjid, termaktub pada tanggal 28 Juli 1889 Sultan Sulaiman Shariful Alamsyah, Serdang membuka Pekan simpang tiga Perbaungan
(Bandar Setia) dan mendirikan Istana Darul Arif di Kraton Kota Galuh.
Tahun 1894, Ibukota Kesultanan Serdang dipindahkan dari Rantau Panjang ke Kraton Kota Galuh Perbaungan dan didirikanlah Masjid Raya pada tahun 1901 secara Permanen.
Di areal sekitar masjd bersemayam Makam Sultan Sulaiman Shariful Alamsyah dan makam beberapa Sultan setelahnya.
Lalu di samping masjid, dibangun sekolah yang memberikan pendidikan bagi masyarakat umum, dikelola oleh Yayasan Kesultanan Serdang.
Pada masa pemerintahan dengan terbentuknya Kabupaten Sedang Bedagai, dibangunkan Replika Istana Darul Arif, Kraton Kota Galuh (Istana Sultan Serdang), terletak di jalan lintas Perbaungan-Medan.

Sehingga catatan sejarah menjadi bukti akan kejayaan masa lalu dan tersimpan dalam sebuah khazanah yang tak hilang dalam tinta sejarah, walaupun terkubur dan dihilangkan dalam perjalanan bangsa.

Jadikan KoranM24 Sumber Berita Pilihan Kamu

Dapatkan update informasi terkini dan tepercaya langsung di halaman utama Google Kamu.