Medan,KoranM24 – Jembatan yang hingga kini masih berdiri dan berdekatan dengan Stasiun Kereta Api Medan, pada masanya pernah menjadi bagian cerita sebagai ruang edukasi dan literasi dalam membuka cakrawala dan peradaban.
Letak di pusat Ibukota Medan, masyarakat menyebutnya Titi Gantung, dibangun pada tahun 1885 bersamaan dengan pembangunan Stasiun Kereta Api Medan. Dan diresmikan pada tahun 1920 bersamaan dengan peresmian Kantor Pusat Deli Spoorweg Maatschappij (DSM).

Dahulu Titi Gantung yang memiliki panjang sekitar 45 meter dengan ditopang oleh tembok setinggi ket 6-7 meter, awalnya diperuntukkan sebagai jalan lintas dan penyeberangan pejalan kaki dan calon penumpang kereta api, menghubungkan dua jalan yaitu, Stasiun Kereta Api dan Jalan Irian Barat, dikarenakan lokasinya berada di kedua sisi.
Melihat seni bina bangunan masa lampau walaupun dibangun pada abad ke-18, Titi Gantung ini sudah memperhatikan hak bagi pejalan kaki, terbukti dengan adanya tangga khusus di kedua sisi pintu keluar masuk pada jembatan tersebut.
Dibangun bergaya klasik, bangunan ini merupakan tempat favorit pejabat Belanda untuk bersantai dan menikmati pemandangan Kota Medan.
Pada masanya, bangunan ini beralih fungsi, dimana ruas areanya menjadi tempat penyedia buku bekas, namun lambat laun disetiap sudut Titi Gantung akhirnya dipenuhi barang dagangan dan menjadi tempat berburu buku bekas dan buku lama yang tidak dijual di tempat umum lainnya
Titi Gantung sebagai saksi bisu yang menjembatani masa lalu dan masa kini dengan menyisakan seribu cerita yang mengiringinya dalam perjalanan peradaban sebuah Negeri Melayu di Tanah Deli .






