Medan, KoranM24 – Kejayaan masa silam adalah cermin masa depan dalam menapaki sejarahnya untuk menemukan kembali sebuah hakikat yang tersembunyi di dalamnya.
Negeri Langkat merupakan wilayah bagian dari Kerajaan Aru masa lalu, merupakan Kerajaan yang memiliki wilayah yang subur dengan sumber daya alam berlimpah, serta molek, hingga menjadi perebutan para pihak, dalam narasi dan sastra melayu dikiaskan sebagai Putri Raja yang elok, dituliskan dalam kronik Legenda Putri Hijau.
Perebutan sumber daya alam dan jalur perdagangan Selat Malaka menjadi pertikaian yang tak berujung, antara Kesultanan Malaka bersama Kerajaan Aceh Darussalam melakukan penaklukan kepada Kerajaan Aru yang berhadap hadapan dengan kekuasaan Portugis.
Pertempuran Aru menjadi ulasan sastra dalam kisah rakyat tentang Legenda Putri Hijau, dimana Mambang Yazid menjelma menjadi naga dan Mambang Khayali menjelma menjadi meriam. Walaupun sejatinya sastra melayu banyak mengandung kiasan dan majas dalam menarasikan sesuatu.
Kekalahan Kerajaan Aru tidak melemahkan semangat perjuangan , pada perang Aru II , tepatnya di wilayah sekitar Delitua, Kerajaan Aru dibantu oleh pasukan dari Kesultanan Johor, banyak pejuang Johor yang gugur dalam pertempuran dan di makamkan di sekitar areal pertempuran, wilayah ini sekarang menjadi bagian Kota Medan dengan nama Medan Johor.
Di atas Puing-puing Kerajaan Aru, para pewaris dan penerusnya membina kerajaan yang selanjutnya dinamakan Langkat, dimana lambang Langkat disimbolkan sepasang Naga Air, jantan dan betina, lambang kesuburan dan kemakmuran dengan mengapit bintang ber segi lima, simbol ketauhidan dan mahkota berhiaskan intan sebagai lambang keagungan.
Black Blood atau Darah hitam yang mengalir dari bumi Langkat memberikan kemakmuran bagi seluruh negerinya, menjadikan Langkat negeri nan molek, meraih masa keemasan, ketika ditemukan minyak pertama di Langkat oleh A.J. Zijker di Telaga Said, pada 15 Juni 1885, melalui pengeboran sumur Telaga Tunggal I, menjadikannya titik awal industri perminyakan nasional dan cikal bakal {Royal Dutch Shell (Shell)}. Penemuan ini berawal dari eksplorasi sejak tahun 1880-an.
“Darah Hitam” yang mengalir adalah janji dan ketika janji telah diingkari, disaat kemungkaran meraja, keserakahan menjadi berhala, disaat itulah “Darah Hitam” dari negeri Langkat mengering.






