Budaya

Arab Melayu, Kearifan Lokal Kota Pinang

×

Arab Melayu, Kearifan Lokal Kota Pinang

Sebarkan artikel ini

Medan,KoranM24-Perjalanan dari Ibukota Provinsi Sumatera Utara, Kota Medan menuju Kota Pinang yang merupakan Ibukota Kabupaten Labuhan Batu Selatan, dapat ditempuh melalui jalur darat dengan waktu sekitar 6 Jam.
Memasuki Kota Pinang yang merupakan kecamatan sekaligus pusat pemerintahan atau ibukota dari Kabupaten Labuhan Batu Selatan, di provinsi Sumatera Utara, sekarang d di Pusat Kecamatan tepatnya Kelurahan Kota Pinang, Kelurahan kearifan lokal, terdapat plank nama jalan sepanjang jalannya bertuliskan aksara arab melayu .

Masuk ke Jalan Istana, berdiri dengan megah Masjid Besar Al Musthafa yang merupakan peninggalan Kesultanan Kota Pinang. Dan di arealnya berdiri makan bangsawan dan keturunan dari Kesultanan Kota Pinang.

Kota Pinang merupakan Kerajaan Melayu pada masa lampau, dimana masih dapat ditemukan bekas bangunan Istana Bahran. Namun hal itu tak mengurangi kesan gagah yang terpancar dari gedung yang sudah tak beratap, beberapa dinding istana yang dibangun pada masa kejayaan Kesultanan Kota Pinang tersebut, terdapat banyak coretan hingga merusak keindahannya. Bahkan, beberapa material bangunan yang dulunya masih utuh tak terlepas dari keusilan Tangan-tangan jahil yang merusaknya.
Kekokohan bangunan tua ini sudah teruji. Peledakan yang dilakukan pada masa revolusi sosial yang terjadi sekira tahun 1946, tidak sanggup melenyapkan gagahnya istana tempat Seripaduka yang Dipertuan Kota Pinang, Musthafa Perkasa Alamsyah XII bertahta tersebut.


Istana Kota Bahran dibangun oleh Sultan Musthafa Perkasa Alamsyah bin Ismail sekira tahun 1930-an dan bangunan ini diresmikan pada tahun 1934.
Kemegahan istana Kota Bahran itu dibangun dari hasil sektor pertanian, terutama tanaman karet yang ada saat itu dan mempunyai nilai dagang yang sangat bagus.
Dalam mendesain istana ini, Sultan Mustafa mengadopsi gaya mediterranean pada masa itu. Inspirasi itu didapatkannya ketika bersekolah di Mesir.
Namun usia istana Kota Bahran terbilang singkat, pada masa revolusi sosial yang terjadi sekitar tahun 1946 bangunan tersebut dihancurkan. Tak hanya meluluh lantakkan istana, dalam peristiwa itu, Tengku Long Mustafa anak tertua dari Tengku Mustafa juga ikut terbunuh walaupun beliau sudah menjadi wedana (Pejabat Republik Indonesia) di Rantau Prapat.

Menurut Keluarga Almarhum Tengku Khairul Azzam keturunan dari Juriat Kesultanan Kota Pinang, pernah menjabat sebagai Lurah di Kota Pinang selama 12 tahun, disampaikan oleh Tengku Adli, bahwa hingga saat ini sebagai kota menetapnya dirinya dan merawat peninggalan Kerajaan Kota Pinang, tersisa berupa Masjid Raya dan beberapa aset milik Kesultanan yang berada di Kelurahan Kota Pinang, di sekitar jalan Istana, kini tercatat menjadi milik Pemerintahan Kabupaten Labuhan Batu Selatan.

Jadikan KoranM24 Sumber Berita Pilihan Kamu

Dapatkan update informasi terkini dan tepercaya langsung di halaman utama Google Kamu.