Budaya

Pulau Kampai Jauh di Tengah

×

Pulau Kampai Jauh di Tengah

Sebarkan artikel ini

Medan,KoranM24-Sejarah kelahiran dan pertumbuhan, maupun perkembangan Kecamatan Pangkalan Susu tidak diperoleh dengan pasti, namun berdasarkan keterangan yang dikumpul dari para orang tua, M.Jali Hg dan Ramli, dapat dikumpulkan keterangan yang dianggap cukup memadai untuk menjadi catatan.

Lebih kurang dari tahun 1890, dalam suasana masih hutan semak belukar dan kegiatan pemerintahan tunduk Sultan Langkat di Tanjung Pura, seorang yang bernama Tengku Nyak Pekan membuka hutan di Kampung Sei Bemban (sekarang Pulau Kampai). Selain menanam lada dan menanam potensi pertanian lainnya.

Merasa perlu memperluas areal pertanian, maka Tengku Nyak Pekan bersama keluarganya membuka hutan juga di Pangkalan Soesoe, sehingga akhirnya area pertanian diwarnai dengan tumbuhnya pohon lada yang cukup banyak.

Pada tahun 1917, oleh Sultan Langkat, maka salah satu anak Tengku Nyak Pekan yang bernama Kobat, diangkat menjadi Petua dan mengepalai daerah Pangkalan Soesoe.Dalam Perkembangannya, maka Pangkalan Soesoe mulai didatangi para pendatang dari pesisir/luar untuk mencoba berusaha dibidang pertanian, dimana pada saat itu belum ada perhubungan darat sehingga para pendatang menyelusuri laut dan pantai untuk membuka hutan yang masih belum dijamah. Lalu Perahu-perahu dan sagor (sampan), diikatkan di sebuah pohon yang rindang, ditepi pantai, selanjutnya lokasi penambatan perahu itu, disebut dengan Pangklaan dan pohon rindang tempat diikatnya dan ditambatkanya sagor tersebut, dinamakan SOERSOER. Hari demi hari pertambahan jumlah pendatang semakin bertambah untuk membuka hutan sebagai lahan pertanian. Menurut ceritanya, baik oleh Pemerintah Belanda maupun masyarakat setempat sendiri, menyebut SOERSOER merasa agak sulit, sehingga sering terucap menjadi SOESOE. Pada gilirannya oleh Pemerintah Belanda, ditetapkan menjadi Pangkalan Susu.

Pada masa Kesultanan Langkat, wilayah tersebut berada di Kedatukan, berdekatan Datuk Lepan, Datuk Besitang dan Datuk Pulau Kampai

Setelah Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945, dihapuskan lah Pemerintahan Swa Praja atau Zeltbestuur yang diperintah oleh Sultan/Raja-raja di Kerisidenan Sumatera Timur, termasuk di Pangkalan Susu.

Disusunlah pemerintahan sipil di wilayah Keresidenan Sumatera Timur yang terdiri dari 6 (enam) Kabupaten Langkat, dimana Bupatinya bernama Alm.Adnan Noer Lubis, diresmikan tepatnya tanggal 12 April 1946, dengan dibentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka dihapus lah Keresidenan Sumatera Timur dan menetapkan Pejabat Pimpinan Pemerintahan di seluruh Kabupaten, termasuk Kabupaten Langkat yang berkedudukan di Binjai, saat itu Bupati H.O.K. Salamuddun, membawahi 3 (tiga) Kewedanan, termasuk Kecamatan Pangkalan Susu, bagian dari bagian Teluk Aru.

Di wilayah Pangkalan Susu, tepatnya di Desa Pulau Kampai, ditemukan peninggalan bersejarah yang dikenal dengan nama Makam Panjang yang berada di dalam Areal Makam, terdapat dua kuburan sepanjang 8 Meter dan 6 Meter.

Pulau Kampai menyimpan kisah tentang sepasang kekasih yang sehidup semati, seperti kisah Romeo dan Juliet. Kisah sepasang kekasih ini, dikuatkan dengan keberadaan Makam Mas Merah, merupakan Kisah-kasih sepasang kekasih, Salam dan Rukiah.

Pulau Kampai sebagai wilayah yang berada di wilayah pesisir, juga memiliki keindahan berupa pantai terkenal dengan keindahannya, yaitu Pantai Berawe, dihiasi rerimbunan pohon manggrove, diyakini Pulau Kampai pernah maju dan berkembang pada periode akhir Kerajaan Sriwijaya dalam upaya pengembangan perniagaan antara Daerah-daerah di Sumatera.

Arkeolog dari Balai Arkeologi Medan (Balar), Ery Soedewo mengatakan, Pulau Kampai sangat besar, kemungkinan pernah sebagai jalur dan bandar niaga dari abad ke-8 hingga 10 Masehi.

“Dugaan itu ditandai oleh posisinya yang berhadapan langsung dengan ‘jalur maritim Sutra di Selat Malaka, diperkuat oleh sebaran artefak yang banyak ditemui dipermukaan,” katanya.

Hingga saat ini, belum dapat dipastikan, apakah di Pulau Kampai terdapat Kerajaan secara politik, kecuali sebagai bandar ataupun jalur perniagaan.

“Untuk itu potensi penelitian arkeologi ataupun sejarah, sangat penting dilakukan untuk menemukan sejarah yang terpendam di pulau itu,” kata Edy Soedewo.

Keberadaan Pulau Kampai sendiri telah dicatat oleh John Anderson dalam misi perjalanannya ke Pesisir Timur Sumatera Utara pada tahun 1823, merupakan bagian dari penjajakan kemungkinan perniagaan Inggris di daerah tersebut.

Sumber lain dari Tiongkok, yakni pada era Hsin Tang Shu, Pulau Kampai dikenal dengan Kompe, saat pengiriman misi Tang pada tahun 662 AD yang disebutkan bahwa sekitar 2.000 pasukan diutus ke Kampai. Kemudian Chau Ju-kuas (Chu-fan-chi) pada tahun 1225 dengan nama Chien-pi atau Kien-pi.

Dari naskah tersebut diketahui bahwa Pulau Kampai sangat potensial untuk dilakukan penelitian arkeologi karena banyaknya artefak yang ditemukan dipermukaan, seperti keramik, Manik-manik (beads), gemstones, glass, bricks dan stone.

Keramik-keramik yang ditemukan itu hampir semuanya berasal dari Tiongkok dengan karakteristik green glazed Lung Chuan (celadon), diimport pada akhir Dinasti Sung, Yuan dan awal Dinasti Ming.

Berdasarkan Catatan-catatan tersebut dapat disimpulkan bahwa Pulau Kampai memiliki peranan penting dimasa silam dalam jalur perniagaan di Sumatera Utara dan Aceh. Namun demikian, potensi arkeologi, maupun historisnya belum terdata dengan baik.

Peneliti Pusat Studi Ilmu Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial (Pussis) Universitas Negeri Medan (Unimed), Erond L. Damanik, mengatakan Pulau Kampai yang terletak di Kecamatan Pangkalan Susu Kabupaten Langkat, dapat ditempuh dari Medan sekitar 4 jam perjalanan sampai ke Pangkalan Susu, kemudian dilanjutkan dengan menumpangi kapal tongkang berbobot 10-15 ton dengan waktu tempuh sekitar satu jam.

Pulau Kampai berada di sebelah utara Teluk Aru (Aru Bay), bersebelahan dengan Pulau Sembilan. Di sebelah utara dan barat Pulau Kampai terdapat Sungai Serangjaya yang ditumbuhi oleh hutan Mangrove dan di sebelah tenggara terdapat Sungai Besitang yang terhubung langsung dengan Teluk Aru. Di sebelah selatan pulau itu, terdapat Selat Malaka yang memiliki peran penting dalam sejarah perniagaan di Sumatera.

“Jika merujuk dari tulisan McKinnon, seorang arkeolog berkebangsaan Inggris, nama Pulau Kampai atau Kompei, kemungkinan besar diambil dari nama tumbuhan dalam bahasa Melayu yakni Kumpai atau Rumput Kumpai,” kata Erond L. Damanik

Pulau Kampai tersebut juga terdapat kompleks Makam, masyarakat setempat disebut dengan Makam Keramat Panjang. Di dalam kompleks Makam tersebut terdapat dua Makam, yang satu berukuran normal (1,5-2 meter) dan satu lagi berukuran antara 6-8 meter. Kedua makam tersebut dilengkapi dengan batu nisan bercorak Islam yang mirip dengan nisan yang terdapat di Aceh. Diduga nisan tersebut didatangkan dari Aceh pasca pendudukan Aceh di Pulau Kampai pada awal abad 17.

“Kedua Makam tersebut adalah tokoh yang dihormati atau orang yang berpengaruh pada saat itu, sehingga Makamnya dibuat berbeda dari biasanya,” ungkapnya.

Keindahan Pulau Kampai dituangkan dalam lagu Melayu dengan judul “Mak Inang Pulau Kampai”, sering dinyanyikan dan ditarikan oleh anak dara Melayu.