PendidikanDaerahDeli Serdang

Hardiknas di Deli Serdang: Bocah 12 Tahun Tak Pernah Sekolah dan Hidup dari Bantuan Warga

×

Hardiknas di Deli Serdang: Bocah 12 Tahun Tak Pernah Sekolah dan Hidup dari Bantuan Warga

Sebarkan artikel ini

Deliserdang, KoranM24 – Di tengah peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), kisah seorang bocah berusia 12 tahun di Kabupaten Deli Serdang menjadi pengingat bahwa masih ada anak yang belum tersentuh pendidikan. Anak bernama Abil itu mengaku belum pernah merasakan bangku sekolah dan kini bertahan hidup dari bantuan warga.

Abil ditemui wartawan KoranM24 di depan Alfamart kawasan Jalan Bakaran Batu, Lubuk Pakam, Sabtu malam (2/5/2026). Saat itu, ia duduk sambil mewarnai buku gambar. Menurut keterangan pegawai Alfamart, bocah tersebut kerap berada di lokasi, namun tidak pernah meminta-minta kepada pengunjung.

“Kalau adik ini gak pernah minta-minta bang,” ujar seorang kasir.

Saat diajak berbincang, Abil mengaku berasal dari Gang Rezeki, Pasar 14, Kecamatan Tanjung Morawa. Ia menyebut sudah sekitar lima tahun berada di Lubuk Pakam setelah dibawa oleh teman ibunya.

“Di Pakam, saya dibawa teman ibu om. Saya tinggal di warnet sini om, simpang Perbatasan Bakaran Batu (depan perumahan BTN),” ucapnya.

Abil mengatakan kini tinggal di sebuah warnet dan sesekali ikut menjaga tempat tersebut. Ia mengaku tidur di sana karena sudah disediakan tempat beristirahat.

Saat ditanya soal keluarga, Abil menyebut ibunya bernama Desi telah meninggal dunia karena sakit komplikasi. Ia juga mengatakan ayahnya meninggal karena sakit jantung. Sementara kakaknya bernama Ica.

“Mamak sudah meninggal om, bapak pun udah meninggal om. Nama mamak Desi, nama kakak Ica, kakak udah remaja,” katanya.

Untuk makan sehari-hari, Abil mengaku mengandalkan bantuan orang-orang yang iba melihat kondisinya. Ia menegaskan tidak pernah meminta uang kepada siapa pun.

“Makan dikasi orang-orang om, beli nasi dari orang-orang ngasi uang untuk saya. Saya gak minta om, saya di Alfamart ini tiap malam om kadang disebelah Alfamart, Indomaret om” ujarnya.

Saat ditanya mengapa tidak pulang ke Tanjung Morawa dan tinggal di rumah neneknya, Abil mengatakan neneknya telah meninggal dunia. Ia juga mengaku tidak ingin kembali karena rumah tersebut kini ditempati saudara orang tuanya.

“Gak mau om, ada bude tinggal tempat nenek,” sebutnya.

Abil sedang mewarnai buku gambar di mini market Bakaran batu. (KoranM24/Fani Ardana)

Ketika ditanya kenapa tidak sekolah dan apakah sudah bisa membaca maupun menulis, Abil menundukkan wajah sambil terus mewarnai gambar robot di bukunya. Ia lalu menjawab singkat bahwa dirinya belum bisa membaca dan menulis dengan baik.

“Gak sekolah saya om, baca saya gak pande nulispun gak bisa om , ini hanya gambar gambar di beliin orang om disini,” katanya.

Saat ditanya apakah mau sekolah jika ada yang membantu, Abil beberapa kali menjawab tidak mau. Jawaban itu disampaikan dengan nada datar, seolah sudah lama menerima keadaan yang dijalaninya.

Usai perbincangan tersebut, wartawan yang menemui Abil memberikan bantuan seadanya untuk bocah itu.

Kisah Abil memperlihatkan masih adanya anak dari keluarga kurang mampu yang belum tersentuh akses pendidikan secara utuh. Di saat Pemerintah Kabupaten Deli Serdang menggelar peringatan Hardiknas di alun-alun daerah, Abil yang seharusnya duduk di bangku sekolah justru harus bertahan hidup dari bantuan warga. Kondisi ini juga menjadi pengingat bahwa berbagai program pemerintah, termasuk sekolah rakyat untuk masyarakat miskin dan kurang mampu, masih belum sepenuhnya menjangkau lapisan paling bawah.