Pangkalan Susu, koranm24 – Sejarah Pangkalan Susu berawal pada akhir abad ke-19 sebagai sebuah pelabuhan penambatan perahu di bawah Kesultanan Langkat.
Dimana wilayah ini kemudian berkembang pesat menjadi pusat pelabuhan ekspor minyak bumi pertama di Indonesia dan saksi sejarah pengiriman minyak perdana ke luar negeri.

Sekitar tahun 1917, para pendatang yang menyusuri pantai kerap menambatkan perahu (sagor) mereka di sebuah pohon rindang. Lokasi penambatan ini dinamakan “Pangkalan” dan pohon rindangnya dinamakan “Soersoer” (Susu), yang kemudian menjadi nama daerah tersebut. Pada tahun 1917, Kobat (putra tokoh pembuka lahan Tengku Nyak Pekan) diangkat oleh Sultan Langkat menjadi petua daerah ini.
Kemudian di tahun 1898 ditemukannya sumur minyak di kawasan Teluk Aru (termasuk Pangkalan Brandan), pemerintah kolonial Hindia Belanda membangun tangki penimbunan dan fasilitas pelabuhan di Pangkalan Susu pada tahun 1898. Pelabuhan ini menjadi pintu gerbang utama ekspor minyak bumi dari pedalaman untuk menghubungkan kilang minyak di Pangkalan Brandan dengan pelabuhan ekspor di Pangkalan Susu, pemerintah Belanda membangun jalur kereta api khusus yang pertama.

Jalur ini kemudian berkembang menjadi jaringan kereta api yang menyambungkan Besitang hingga Medan.
Pada 24 Mei 1958, Pangkalan Susu mencatat sejarah penting dalam industri energi nasional ketika kapal Shozui Maru sukses mengangkut 1.700 ton minyak mentah pertama Indonesia untuk dikirim ke Jepang.
Kedekatan dan keterikatan wilayah Pangkalan Susu dengan Pangkalan Brandan menjadikannya bagian penting dari tonggak sejarah pembentukan PT Pertamina (penggabungan PN Permina dan PN Pertamin).
Saat ini wilayah tersebut masuk dalam wilayah operasional PT Pertamina Hulu Rokan (Zona 1), dan pelabuhan bersejarah ini menyimpan potensi besar sebagai destinasi wisata sejarah.








