Medan, KoranM24 – Sejarah peradaban Bangsa-bangsa menuliskan tentang penamaan sebuah negara menurut frasa bahasanya yang mungkin tidak lazim di pembicaraan antar bangsa. Diantaranya adalah orang Indonesia menyebut negara Netherland dengan nama Belanda, negara Egypt dikenal dengan nama Mesir dan negara Cina dengan Tiongkok.
Dalam catatan sejarahnya penamaan cina di era lampau, tercatat dalam dokumen lama, diantaranya tentang kedatangan orang china ke negeri Deli, saat awal mulanya di buka konsesi perkebunan tembakau.
Dengan semakin banyaknya investor asing menanamkan modal, menyebabkan perusahaan Deli Maatshcappij melakukan ekspansi
perkebunan baru di daerah Martubung, Sunggal, Sungai Beras dan Klumpang, sehingga jumlahnya mencapai 22 Perusahaan pada tahun 1874.
Mengingat terjadinya perluasan perkebunan, maka diikuti pula dengan kebutuhan tenaga kerja yang semakin meningkat. Dimulai pada tahun 1869 untuk mencukupi permintaan pasar, maka sebanyak 900 pekerja cina telah didatangkan ke Deli dari Pulau Pinang, sehingga terdapat julukan bagi Deli Maatshcappij “ the first limited liability company to operate in the Netherlands East Indies”, seperti yang dituliskan oleh Jan Breman dalam. Bukunya Menjinakkan Sang Kuli: Politik kolonial pada awal abad ke-20.
Dengan dipindahkannya kantor perusahaan dari Labuhan ke Kampung “Medan Putri”, kantor baru itu dibangun di pinggir sungai Deli, permintaan tenaga kerja semakin meningkat.
Kedatangan orang cina didasarkan atas munculnya peraturan dari Raja Muda Kanton dan Gubernur Fukkian yang mengatur kebebasan emigrasi ke Deli, dimana kondisi politik dalam negeri pemerintahan Manchu mengakibatkan orang cina ke “Sun -Tung” untuk menyebutkan wilayah di Sumatera Timur pada masa itu. Para pekerja tersebut datang dari wilayah Kwangtung dengan marga “Teochew, Hai Hong dan Lo Hong .
Para pekerja yang didatangkan ini sering disebut sebagai “Singkeh” atau ‘Sinkeh’ yang berarti pendatang baru. Sedangkan di Asia Tenggara, sebelum akhir abad ke-19 sudah terdapat kelompok orang cina yang merupakan kaum peranakan.
Meskipun berasal dari negeri Cina, secara budaya Singkek masih memegang teguh budaya leluhurnya, berbeda dengan peranakan yang secara budaya telah banyak dipengaruhi kebudayaan lokal dan eropa.
Identitas Cina Singkek, dimana perempuannya mengenakan celana panjang hitam, bahkan mengecilkan kaki, sedangkan perempuan peranakan mengenakan sarung kebaya encim.
Komunitas peranakan eksis terlebih dahulu di Nusantara, ketimbang Singkek yang baru mulai eksis pada akhir abad ke-19.
Komunitas peranakan memiliki nenek moyang etnis pribumi setempat, sedangkan Singkek masih dengan budaya leluhurnya, karena kaum wanita, pria dan anak-anak turut bermigrasi ke wilayah baru.
Komunitas peranakan biasanya lebih kaya karena sudah lama eksis di tanah Deli dan mereka memiliki hubungan yang baik dengan penguasa pribumi setempat, sesama pedagang etnis Arab atau India serta etnis lainnya, bahkan dengan orang Eropa.
Sedangkan Singkek bekerja sebagai buruh tani dan buruh kasar. Di Sumatera Timur mereka dikenal dengan sebutan Cina Kebun Sayur.
Pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, penamaan Cina dirubah menjadi Tiongkok, penyebutannya di Indonesia sesuai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2014 tentang Pencabutan Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera Nomor SE-06/PRES.KAB/6/1967.
Dengan Keputusan Presiden secara resmi nama Republik Rakyat Cina di Indonesia diubah menjadi Republik Rakyat Tiongkok untuk negaranya dan Tionghoa untuk masyarakatnya, penamaan ini sendiri tidak mengubah sejarah peradaban dan asimilasi budaya yang hidup di tanah Melayu Sumatera Timur yang dikenal dengan Negri “Nan -Yang”.






