MEDAN, KoranM24- Desa Kelantan dan Desa Perlis di Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara, terbentuk akibat migrasi leluhur dari Semenanjung Malaysia untuk tujuan perniagaan, seperti mengumpulkan atap nipah.
Ditelusuri dari beberapa sumber, keterkaitan budaya keduanya dengan Malaysia terlihat dari dialek bahasa Melayu loghat utara dan warisan tradisi yang masih dijaga di wilayah pesisir Sumatera itu.
Ikatan historis dan kultural antara Semenanjung Malaysia dengan desa-desa di Langkat itu mencakup beberapa aspek utama diantaranya,
– Jalur Migrasi Lama: Terbentuk sejak zaman kolonial Belanda dan Kesultanan Langkat, wilayah ini menjadi pusat persinggahan dan permukiman bagi perantau dari pesisir utara Malaysia seperti Kelantan dan Perlis. Mobilitas laut yang tanpa batas pada masa lalu membuat pertukaran budaya terjadi secara organik.
– Dialek Bahasa: Penduduk di Desa Kelantan dan Desa Perlis masih mempertahankan cara bertutur menggunakan loghat utara Semenanjung Malaysia dalam kehidupan sehari-hari.
– Akulturasi Kuliner: Kuliner khas Melayu klasik seperti Kue Asidah menjadi bagian dari warisan budaya yang dipertahankan dalam berbagai acara adat dan hajatan.
– Identitas Budaya: Meskipun hidup berdampingan dengan etnis Melayu Langkat dan Melayu Deli lokal, komunitas di desa tersebut tetap menjaga identitas diaspora leluhur Malaysia mereka, menciptakan corak budaya khas di pesisir utara Sumatera.
Pada permulaan abad ke-19, tepatnya tahun 1826, terbit sebuah buku hasil penjelajahan seorang pegawai East India Company di Penang, yang bernama John Anderson. Buku tersebut berjudul “Mission to the East Coast of Sumatra” (Asnan, 2016: 2).
Anderson mengunjungi tiap-tiap sungai yang terbentang di pantai timur Sumatera, mulai dari Tamiang (Aceh) hingga Siak (Riau). Bukan hanya menginventarisir nama-nama sungai, Anderson juga menghimpun populasi masyarakat, kebudayaan setempat, komoditi hasil bumi, aktivitas perdagangan hingga kegiatan politik.
Salah satu sungai yang dikunjungi oleh Anderson ialah Sungai Babalan. Sungai tersebut mengalir di wilayah Langkat. Saat ini, aliran sungai tersebut melintasi tiga kecamatan di Kabupaten Langkat, yakni Sei Lepan, Brandan Barat dan Babalan.
Sungai yang memiliki ekosistem mangrove di muara yang menjadi tempat nelayan setempat menangkap ikan. Anderson menyebut nama sungai itu dalam bukunya dengan penulisan “Sungei Bubalan” (Anderson, 1971: 237).
Desa Perlis dan Kelantan terletak di muara Sungai Babalan. Sebagian besar rumah di desa ini berdiri di atas air dan berhadapan langsung dengan aliran sungai. Wilayah seluas 611 hektare itu awalnya merupakan pulau hasil endapan lumpur yang menyerupai pulau terpisah dari daratan utama Sumatera.
Penamaan wilayah itu mirip dengan negara bagian di Malaysia (Perlis dan Kelantan). Konon berasal dari sejarah panjang imigrasi dan pertalian budaya masyarakat Melayu pesisir timur Sumatera dengan wilayah Semenanjung Malaya di masa lampau.
Meskipun kental dengan nuansa nelayan Melayu dan pendatang etnis Jawa, desa tersebut dihuni masyarakat multikultural termasuk suku Mandailing, Minangkabau, Banjar, dan Tionghoa.
Selain mengandalkan hasil tangkapan laut seperti ikan dan udang, wilayah itu terkenal sebagai produsen belacan (terasi) dan memiliki sektor pertanian serta peternakan yang dikelola penduduk.








