Budaya

Rumah Singgah Kesultanan Siak di Langkat, Bukti Sejarah Hubungan Baik Antar Dua Kesultanan

×

Rumah Singgah Kesultanan Siak di Langkat, Bukti Sejarah Hubungan Baik Antar Dua Kesultanan

Sebarkan artikel ini

Medan,KoranM24 – Bangunan berdinding kayu dengan dihiasi jendela-jendela lebar, masih tegak berdiri, seakan menggambarkan sebuah kejayaan pada masanya.

Pesanggarahan Kesultanan Siak namanya yang telah dikenal masyarakat setempat, dimana lokasinya tepat di belakang Asrama Putri Madrasah Aliyah Negeri Tanjung Pura, Jalan Tengku Amir Hamzah No 137, Kota Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, kini terhimpit dengan bangun modern yang menjulang tinggi.

Bangunan yang pada masa lampau digunakan oleh Sultan Siak, maupun Orang-orang besar di Kesultanan Siak saat berkunjung ke Langkat.

Hal itu dikarenakan hubungan Kesultanan Langkat dan Kesultanan Siak ini, disebut sudah baik sejak masa Raja Ahmad (1818-1840) hingga masa Sultan Musa Almahadamsyah (1840-1893) dan dilanjutkan oleh Sultan Abdul Azis (1893-1927), terakhir Sultan Mahmud Abdul Jalil (1927-1948).

Hubungan Siak dan Langkat semakin diperkuat dengan Pernikahan keluarga Kesultanan Langkat Tengku Syarifah Latifah yang merupakan Keponakan dari Sultan Abdul Azis, menikah dengan Sultan Syarif Kasim II yang merupakan Sultan Siak dan menjadi Permaisuri Kesultanan Siak.

Rumah Singgah Sultan Siak ini jika dilihat dari poto peninggalan masa lampau, tampak sedikit berbeda, dimana bangunan teras depan telah hilang dan hanya menyisakan tangga depan masuk pintu yang sudah di beton. Dilihat dari seni bina bangunan Rumah Singgah Sultan Siak, sebuah perpaduan antara gaya Melayu dan Eropa.

Sebelumnya kita ketahui dalam sejarahnya, Kesultanan Siak Sri Indrapura (1723–1946) adalah kerajaan Melayu Islam terbesar di Riau, didirikan oleh Raja Kecik (Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah) setelah perpecahan Johor dan berpusat di tepi Sungai Siak.

Kerajaan ini pernah menjadi kekuatan maritim strategis di Selat Malaka, sebelum bergabung dengan NKRI pada 1946 melalui kontribusi besar Sultan Syarif Kasim II.

Setelah didirikan pada tahun 1723 di Buantan oleh Raja Kecik, pusat pemerintahan berpindah dari Buantan ke Mempura, kemudian ke Senapelan (cikal bakal Pekanbaru), dan akhirnya ke Siak Sri Indrapura.

Kejayaan: mencapai puncak kejayaan pada abad ke-16 hingga 20 dengan menguasai pesisir timur Sumatra dan Semenanjung Malaya, dimana perekonomian mengandalkan perdagangan di Selat Malaka dengan menjadikan bandar yang ramai.

Sultan Syarif Hasyim, Sultan ke-11 yang membangun istana megah, sedangkan Sultan Syarif Kasim II, adalah Sultan ke-12 (terakhir) yang dinobatkan pada 1915.

Kemudian pada tahun 1946, Sultan Syarif Kasim II menyatakan setia kepada NKRI dan menyerahkan kekayaannya senilai 13 juta Gulden (sekitar triliunan rupiah) untuk membantu pemerintah Republik Indonesia.

Saat ini peninggalan sejarah Istana Siak Sri Indrapura (Asserayah Hasyimiah) yang dibangun tahun 1889, merupakan perpaduan arsitektur Melayu, Arab, dan Eropa dengan memiliki alat musik bernama Komet, sebuah alat musik gramofon langka dari Jerman.

Lalu Masjid Syahabuddin adalah Masjid kerajaan yang terletak dekat istana, sedangkan Makam Sultan berada di Kompleks pemakaman Sultan-sultan Siak, termasuk Sultan Syarif Kasim II.

Saat ini, bekas wilayah kerajaan ini berada di bawah Kabupaten Siak, Provinsi Riau dan istananya menjadi destinasi wisata sejarah terkemuka dan populer di Riau dengan menyimpan benda-benda kerajaan, seperti mahkota, kursi tahta, dan alat musik.