Medan,KoranM24- “Ganyang, Ganyang,Ganyang”, sebuah kalimat yang mengingatkan kita akan sebuah film G30S/PKI, dimana kekejaman sebuah komunitas atau partai terlarang saat menghabisi nyawa ciptaan tuhan tanpa belas kasihan. Film G30S/PKI yang setiap tahunnya ditayangkan stasiun televisi dan tak bosan kita tonton walau berulang kali, sebagai suatu panduan agar mengingatkan kita tentang sebuah kekejaman sekelompok orang untuk meninggalkan jati diri bangsa yang selama ini memiliki landasan Pancasila.
Kata yang berasal dari bahasa Sansekerta dengan lima prinsip dasar negara Indonesia ini, pertama kali dicetuskan oleh Ir. Soekarno dalam sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945, kadang digunakan sekelompok orang, agar terlihat Pancasilais untuk menutupi kegiatan yang bertolak belakang dengan Prinsip-prinsipnya.
Empat Pria Polisi Gadungan Peras dan Aniaya Warga Hingga Tewas, Dua Pelaku Diringkus Polisi
Parahnya, kata Pancasila yang sudah ada sejak zaman kerajaan Nusantara dan terdapat dalam Kitab-kitab pujangga masa lampau, seperti Kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular dan Kitab Negarakertagama karangan Mpu Prapanca itu, dijadikan nama sebuah Kampung diatas tanah milik negara yang sengaja digarap dan dikenal sebagai tanah garapan. Dijadikan tempat menjalankan bisnis haram dan maksiat, serta dihuni oleh Orang-orang yang diwajibkan patuh, serta berada dalam struktur kepengurusan komunitas yang kabarnya status kepengurusannya tidak pernah diakui oleh komunitas itu sendiri, alias dompleng.
Lahan bekas Hak Guna Usaha (HGU) milik PT Perkebunan Nusantara II, tak hanya menimbulkan konflik di masyarakat, tapi kini adanya oknum yang menjadikan sebuah perkampungan untuk menjalankan bisnis haram berbalutkan pakaian komunitas dan bersistem Sel (Red : Sel Penjara), dimana harus patuh dan taat terhadap perintah Tuannya, jika ingin tetap hidup dan makan, serta mengkultuskan tuannya sebagai dewa penolong dan perduli terhadap orang tak mampu.
Di lahan eks Konsesi Kesultanan Deli itu, sang Tuan, kita sebut aja Tuan Gembong Setan (GS), mendirikan perkampungan dengan nama Kampung Pemaksiat Penindas, disingkat dan mudah kita lafazkan di lidah dengan KPP.
Di KPP, sang tuan Gembong Setan (GS)) dengan pasukannya, tak hanya mendirikan barak buat pasukannya, tapi juga mendirikan Barak-barak buat para tamu yang membawa uang untuk menikmati hidup gaya iblis, baik dalam bentuk tanaman, bentuk kristal putih, maupun pil kecil berwarna.
Semua barak memiliki fungsinya, para tamu yang datang tak hanya kaum tua, tapi kaum muda dan remaja menikmati surga hayalan duniawi sejenak dengan pelayanan tergantung isi kantong para tamu.
Setiap paginya, masyarakat di luar Kampung akan disajikan tontonan, dengan melintasnya pria, wanita dan gadis remaja di bawah umur dengan wajah pucat dan lusuh dalam keadaan mulut Komat-kanit, seakan habis memakan ransum perang dari dalam Kampung Pemaksiat dan Penindasan (KPP).
Tuan GS yang tiap waktu memperlihatkan kekuasaannya dengan arogan, biasanya menyuruh ajudan kepercayaannya melaksanakan rapat rutin setiap Jumat bersama pasukan dengan berbagai agenda dan seluruh pasukan wajib hadir. Biasanya setiap penyerangan terhadap target, selalu dirapatkan dahulu di dalam sebuah Kantor yang berada di dalam Kampung tak jauh dari Makam Panglima Denai, Makam Kramat Kuda yang biasa disebut masyarakat.
Melalui ajudannya, sang Tuan selalu menugaskan setiap pasukan, mereka yang tak menuruti, Tuan GS tak segan melakukan penganiayan terhadap pasukannya dengan memukul menggunakan kayu, hingga mengusir pasukannya beserta keluarganya dari Kampung seperti tempat pembinaan cikal bakal pemikiran PKI.
Sedangkan target penyerangan yang telah mengalami luka, Tuan GS akan melakukan sandiwaranya dengan menumbalkan anggota sebagai pelaku, menjanjikan biaya hidup keluarga dan saat menjalani hukuman. Trik itulah yang terus dimainkan sang Tuan GS, agar dianggap tak terlibat.
Sedang di mata masyarakat sekitar, Tuan GS bagai dermawan untuk kaum miskin dengan membagikan sekarung beras dan bahan pokok lainnya untuk menutupi ribuan kerusakan generasi bangsa ini akibat ransum perang yang disediakannya bagi para tamu.
Tak beda bagi oknum aparat, Tuan GS bagai Toke yang memenuhi Kantong-kantong pribadi dan memenuhi biaya operasional oknum komandan.
Itulah kenyataan, bagai “Gagang jauh dari panggangan”, itu yang terlihat. Bagaimana tidak?, sang Tuan Tertinggi yang menguasai bagian Utara Pulau yang dulu bernama Suwarnadwipa (Pulau Emas) atau Suwarnabhumi (Tanah Emas) atau Pulau Percha (atau Perca), dan lebih dikenal oleh masyarakat dengan nama Andalas, sangat paradoks (bertolak belakang).
Sang Tuan Tertinggi bagian Utara Pulau Andalas sangat dikenal sebagai pria bersahaja, sopan dan ramah, serta dekat dengan ulama, berbeda dengan Tuan GS yang selama ini mendompleng kewibawaan Tuan Tertinggi, padahal kerab mencoreng, malah membangkitkan cikal bakal bangkitnya New PKI (PKI gaya baru). Semua itu tak disadari sang Tuan Tertinggi yang bijaksana, jika pakaiannya Sedikit-sedikit mulai dikotori oleh Tuan Gembong Setan.






