Budaya

Pangkalan Brandan, Kisah Perminyakan Pertama

×

Pangkalan Brandan, Kisah Perminyakan Pertama

Sebarkan artikel ini

Medan, KoranM24 – Inilah sekelumit kisah tentang Pangkalan Brandan, Kabupaten Langkat, wilayah pertama ditemukannya minyak komersial, persisnya di Desa Telaga Said, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat, sekitar 110 Kilometer Barat laut dari Medan, ibukota Sumatera Utara.
Penemu sumur minyak pertama, seorang warga Belanda bernama Aeliko Janszoon Zijlker, yang merupakan ahli perkebunan tembakau pada Deli Tobacco Maatschappij, perusahaan perkebunan yang ada di daerah tersebut pada masa itu.
Penemuan itu sendiri merupakan buah perjalanan waktu dan ketabahan yang mengkagumkan. Prosesnya dimulai setelah Zijlker mengetahui adanya kemungkinan kandungan minyak di daerah tersebut. Ia pun menghubungi sejumlah rekannya di Belanda untuk mengumpulkan dana guna melakukan eksplorasi minyak di Langkat, sehingga persetujuan konsesi dari Sultan Langkat Musa diterbitkan pada 8 Agustus 1883.

Pada 17 November 1884, setelah pengeboran berlangsung sekitar dua bulan, minyak yang diperoleh hanya sekitar 200 liter. Semburan gas yang cukup tinggi dari sumur Telaga Tiga, membuyarkan harapan untuk mendapatkan minyak yang banyak.
Namun Zijlker dan kawan-kawan tidak berhenti sampai di situ, mereka kemudian mengalihkan kegiatannya ke daerah konsesinya yang berada di sebelah timur, sesuai konsesi yang diberikan Sultan Musa, dimana mencakup wilayah pesisir Sei Lepan, Bukit Sentang sampai ke Bukit Tinggi, Pangkalan Brandan, hal itu bisa mencari lebih banyak titik pengeboran.
Pilihan kedua jatuh ke Desa Telaga Said, pengeboran mengalami sedikit kesulitan, karena struktur tanah lebih keras jika dibandingkan dengan struktur tanah di Telaga Tiga. Usaha memupus rintangan struktur tanah yang keras itu akhirnya membuahkan hasil.

Saat pengeboran mencapai kedalaman 22 meter, berhasil diperoleh minyak sebanyak 1.710 liter dalam waktu 48 jam kerja. Saat mata bor menyentuh kedalaman 31 meter, minyak yang dihasilkan sudah mencapai 86.402 liter.
Jumlah itu terus bertambah, hingga pada 15 Juni 1885, ketika pengeboran mencapai kedalaman 121 meter, tiba-tiba muncul semburan kuat gas dari dalam perut bumi berikut minyak mentah dan material lainnya. Sumur itu kemudian dinamakan Telaga Tunggal I.
Penemuan sumur minyak pertama ini berjarak sekitar 26 tahun dari penemuan sumur minyak komersial pertama di dunia pada 27 Agustus 1859 di Titusville, negara bagian Pennsylvania yang diprakarsai Edwin L. Drake dan William Smith dari Seneca Oil Company. Nama Aeliko Janszoon Zijlker pun tercatat dalam sejarah pertambangan dan Industri perminyakan Indonesia, sebagai penemu sumur minyak pertama dalam sejarah perminyakan di Indonesia yang telah berusia 119 tahun hingga saat ini.

Telaga Tunggal I itu sendiri akhirnya akhirnya berhenti operasi pada tahun 1934, setelah habis minyaknya disedot pemerintah Belanda yang mengelola ladang minyak ini melalui perusahaan Bataafsche Petroleum Matschappij (BPM). Ketika ditinggalkan pada tahun 1934, jutaan barel minyak sudah berhasil dikeluarkan dari bumi Langkat melalui Sumur Telaga Tunggal.
Beberapa sumur lainnya juga ditemukan di sekitar areal Telaga Tunggal I, namun sudah ditinggalkan sejak lama. Setidaknya ada empat bekas sumur minyak di sekitar itu.
Tetapi setelah 119 tahun, sejak pengeboran pertamanya, sumur itu ternyata tidak benar-benar kering. Beberapa tahun belakangan, minyak menetes dari pompa minyak yang terdapat di situ. Tetesan minyak dari Sumur-sumur di kawasan itu masih ada sampai sekarang. Sementara di beberapa sudut, minyak juga merembes membasahi daun-daun kering dan rumput di sekitarnya. Tetesan minyak ini bukannya tidak berguna. Warga sekitar yang mengumpulkannya dalam drum, lantas menjualnya kepada kilang minyak Pertamina di Pangkalan Brandan untuk diolah menjadi BBM.
Membicarakan Sumur Minyak Telaga I tidak bisa lepas dengan Kilang Minyak Pangkalan Berandan. Keduanya saling berkaitan. Catatan sejarah perjuangan bangsa juga melekat di sini. Kilang Pangkalan Brandan yang dikelola Unit Pengolahan (UP) I Pertamina Brandan, merupakan salah satu dari sembilan kilang minyak yang ada di Indonesia, delapan lainnya adalah, Dumai, Sungai Pakning, Musi (Sumatera), Balikpapan (Kalimantan), Cilacap, Balongan, Cepu (Jawa), dan Kasim (Papua).
Ketika dibangun N.V. Koninklijke Nederlandsche Maatschappij pada tahun 1891 dan mulai berproduksi sejak 1 Maret 1892, kondisi Kilang minyak Pangkalan Brandan, tentu kondisinya tidak seperti sekarang ini. Waktu itu peralatannya masih terbilang sederhana dan kapasitas produksi juga masih kecil, jika dibandingkan dengan kondisi sekarang, kilang yang kini masuk dalam Kecamatan Babalan Langkat saat ini berkapasitas 5.000 barel per hari, dengan hasil produksi berupa gas elpiji sebanyak 280 ton per hari, kondensat 105 ton per hari dan beberapa jenis gas dan minyak.
Pangkalan Brandan adalah ibukota Kecamatan Babalan, berbatasan dengan Kecamatan Sei. Lepan, Kecamatan Brandan Barat di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara. Terletak di pesisir pantai timur Pulau Sumatera, sekitar 60 km di sebelah Utara Kota Binjai, atau 80 Km dari Medan.yang berada di Jalan Lintas Sumatera dan merupakan pintu gerbang Provinsi Sumatera Utara dari Aceh.
Jumlah penduduk berkisar 40.000 ribu jiwa. Penduduknya heterogen, mulai dari Melayu yang berdomisili di pesisir, Jawa, Batak, Aceh, dan sebagainya.
Cuaca cukup panas karena dipengaruhi wilayah pinggir pantai. Banyak terdapat pulau kecil di sekitaran teluk. Nama Pulau-pulau tersebut memiliki nama yang bernuansa Malaysia, seperti nama Desanya di sekitaran Kecamatan Brandan Barat bernama Perlis, Kelantan. Ada juga pulau Kampai, Pulau Sembilan dan masih banyak pulau kecil lainnya, dimana potensi wisata di kawasan ini patut dikembangkan.
Pada tahun 2007, Pertamina menutup unit pengolahan minyak Pangkalan Brandan. Penutupan terkait tidak tersedianya stok minyak dan gas yang akan diolah. Alhasil karyawan yang bekerja di unit pengolahan dipindahkan ke Unit Pertamina di wilayah lain, seperti Dumai, sehingga Aset-aset Pertamina Pangkalan Brandan terbengkalai, seperti Mesin-mesin dan Tangki-tangki yang tidak beroperasi , Perumahan karyawan ditinggalkan tidak berpenghuni, sehingga rumah tersebut ditumbuhi ilalang setinggi genteng.

Jadikan KoranM24 Sumber Berita Pilihan Kamu
Dapatkan update informasi terkini dan tepercaya langsung di halaman utama Google Kamu.