Deli Serdang, KoranM24 – Potret kemiskinan masih terlihat di sejumlah wilayah Kabupaten Deli Serdang. Setelah kisah Abil, bocah 12 tahun yang mengaku belum pernah sekolah, kali ini sepasang suami istri pencari barang bekas di Lubuk Pakam hidup dalam keterbatasan bersama dua anak balita mereka.
Pasangan itu ditemui wartawan KoranM24 di teras ruko Jalan Cokroaminoto, tepat di samping sebuah toko di kawasan Lubuk Pakam, Rabu malam (6/5/2026).
Di lokasi terlihat dua karung berisi botol plastik dan barang bekas hasil mereka mengais sampah. Sementara dua anak mereka berada di samping teras ruko. Anak bungsu yang masih berusia sekitar satu tahun tampak tertidur di lantai, sedangkan kakaknya yang berusia empat tahun duduk sambil memainkan mainan kecil.
Pasangan tersebut diketahui bernama Deni (28) dan Susi (30). Deni berasal dari Desa Kramat Gajah, Kecamatan Galang, sedangkan istrinya berasal dari Jaharun, Kecamatan Galang.
Kepada wartawan, Deni mengatakan mereka sudah sekitar dua bulan berada di Lubuk Pakam untuk mencari barang bekas demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Saat ini mereka tinggal menumpang di sebuah rumah milik warga di kawasan Desa Sekip, Kecamatan Lubuk Pakam. Meski diperbolehkan menempati rumah tersebut, kebutuhan listrik tetap harus mereka tanggung sendiri.
Sebelum mendapat tempat tinggal sementara itu, keluarga kecil ini sempat tidur di emperan toko.
Deni mengaku dirinya dan sang istri hanya tamat sekolah dasar. Pekerjaan mengais barang bekas menjadi satu-satunya pekerjaan yang bisa mereka lakukan untuk bertahan hidup.
Penghasilan yang diperoleh pun tidak menentu. Dalam sehari, mereka terkadang hanya membawa pulang sekitar Rp30 ribu hingga Rp50 ribu dari hasil menjual botol plastik dan barang bekas.
Kondisi ekonomi keluarga ini berdampak langsung pada kebutuhan anak-anak mereka. Susi mengaku tidak mampu membeli susu untuk kedua balitanya karena penghasilan yang ada hanya cukup untuk makan seadanya.
“Yang kecil ini gak pernah dikasi susu beli bang, kami gak mampu. Minum ASI aja,” ujar Susi.
Ia mengatakan keluarganya bahkan kerap hanya makan sekali sehari. Dalam kondisi tertentu, satu bungkus nasi harus dibagi untuk empat orang.
Selain itu, mereka juga tidak memiliki kompor untuk memasak di rumah.
Saat anak-anak sakit, pasangan tersebut mengaku hanya membeli obat seadanya di apotek karena tidak memiliki BPJS maupun biaya berobat ke fasilitas kesehatan.
Deni juga menyebut keluarganya belum pernah menerima bantuan sosial dari pemerintah.
“Pingin kali bang dapat bantuan dari pemerintah,” katanya.
Kondisi keluarga ini kembali memperlihatkan masih adanya warga yang hidup di bawah garis kemiskinan di Deli Serdang. Di tengah berbagai program bantuan sosial dan perlindungan masyarakat miskin, masih ada keluarga yang harus membawa anak balita ikut mengais barang bekas untuk bertahan hidup sehari-hari.






