Medan,KoranM24-Kerajaan Aru atau mungkin juga disebut Haru dan mungkin ada juga selintas yang mengatakan Kerajaan Haru adalah Karo, sehingga muncul pertanyaan dimana sebenarnya kerajaaan ini, serta bagaimana sistem pemerintahan dan daerah mana saja yang menjadi daerah pemerintahannya.
Kerusakan Benteng Putri Hijau di Sumatera Utara belakangan ini membawa kembali ingatan tentang bagaimana sepak terjang Kerajaan Aru di masa silam. Tak hanya ingatan bahwa kerajaan ini membawa perjumpaan kisah antara Karo, Melayu dan Aceh, tetapi juga mengenai siapa ahli waris kerajaan besar itu.
Benteng Putri Hijau merupakan peninggalan dari Kerajaan Aru yang ditemukan di Kecamatan Namorambe, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Ia mengalami kerusakan akibat adanya pembangunan perumahan yang dilakukan oleh pengembang swasta.
Meski berada di Deli Tua, kerajaan ini ada berkeyakinan berdiri di Besitang, dimana Istananya dinamakan Istana Kota Batu Sipinang yang berpusat di Hulu Sungai Sikundur, bermuara ke Teluk Aru, Pulau Kampai, Langkat, dimana Arun disebut namanya pada sekitar abad 13.

Saat ini belum ada mufakat mengenai siapa Kerajaan Aru itu. Masyarakat Karo, misalnya menyebutkan bahwa Aru merupakan Haru yang berasal dari kata “Karo”. Karena itu, masyarakat Aru merupakan masyarakat Karo yang didirikan oleh Klan Kembaren. Dalam “Pustaka Kembaren” (1927), marga Kembaren disebut berasal dari Pagaruyung di Tanah Minangkabau.
Orang Karo ini, menurut Majalah Inside Sumatera (November 2008), tak mau disamakan dengan marga Karo yang sekarang, disebut sebagai Karo-Karo (bukan asli). Orang Karo-Karo, seperti Tarigan, Sembiring, Perangin-angin, Sitepu, dan Ginting, baru turun ke Deli pada awal abad ke-17.
Sejumlah sumber lain juga menyebutkan bahwa Kerajaan Aru merupakan kerajaan Melayu yang amat besar pada zamannya. Akan tetapi, Daniel Perret dalam buku “Kolonialisme dan Etnisitas” (2010), yang merujuk pada R. Djajadiningrat dalam buku “Atjehsch-Nederlandsch Woordenboek” (1934), mengatakan bahwa dalam bahasa Aceh “Haro” atau “Karu” berarti suasana bergejolak dan kerusuhan di sebuah wilayah.

Betapapun identitas Kerajaan Aru belum terkuak penuh, Tengku Luckman Sinar dalam buku “Sari Sejarah Serdang” (edisi pertama, 1971), mencatat bahwa nama Aru muncul pertama kali pada tahun 1282, dalam catatan Tionghoa pada masa kepemimpinan Kublai Khan. Dan menurut Perret, nama Aru kembali muncul pada tahun 1413, dalam catatan Tionghoa dengan nama “A-lu”, sebagai penghasil kemenyan. Pada tahun 1436, sumber Tionghoa lain kembali menyebutkan bahwa “A-lu” memiliki beras, kamper, rempah-rempah dan Pedagang-pedagang Tionghoa sudah berdagang emas, perak dan Benda-benda dari besi, keramik, dan tembaga di Tan-Chiang (Tamiang).
Secara wilayah, kekuasaan Kerajaan Aru memang cukup luas. Ia terbentang dari Sungai Tamiang, Aceh kini, hingga Sungai Rokan, Riau kini. Jelasnya, ia meliputi sepanjang pesisir Sumatera Timur. Posisinya yang menghadap ke Selat Melaka membuat kerajaan ini memainkan peranan penting dalam perniagaan dan aktivitas maritim. Selat Melaka merupakan jalur perdagangan laut yang amat aktif dalam periode yang begitu panjang, yakni mulai abad permulaan masehi hingga abad 19.
Bahkan, Perret menyebutkan bahwa dalam hal tempat perdagangan, Aru merupakan negara yang setara dengan Kerajaan Melaka semasa dipimpin oleh Sultan Mansyur Shah yang berkuasa dari 1456 sampai 1477. Di awal abad 15, Aru dan China juga disebut pernah saling melakukan kunjungan. Posisinya yang strategis membuat Kerajaan Aru menjadi pentas politik pun perdagangan bagi Negara-negara lain.
Kerajaan Aru juga dikatakan kerap berkonflik dengan Kerajaan Pasai (Aceh). Pada awal abad 16, Aru menyerbu Pasai dan membantai banyak sekali orang di sana. Namun, serangan itu dibalas oleh Kerajaan Pasai. melalui serangan Berkali-kali, hingga Kerajaan Pasai berhasil menjebol pertahanan Kerajaan Aru hingga rontok.
Sehingga Para petinggi Kerajaan Aru melarikan diri ke Deli Tua dan memindahkan pusat kekuasaan baru di sana. Akan tetapi, meski sudah berpindah tempat, Kerajaan Aceh masih terus merangsek menyerang Kerajaan Aru II itu. Motif penyerangan Kerajaan Pasai kali ini diketahui karena keinginan rajanya untuk menikahi Ratu Aru II, dikenal sebagai Putri Hijau.
Dari beberapa sumber, tertulis bahwa Raja Kerajaan Pasai mengirimkan surat yang meminta Putri Hijau bersedia menjadi permaisuri Raja Pasai (Aceh), selanjutnya Aceh disebutkan Serambi Mekkah dan Aru disebutkan Serambi Aceh, Karena itu Aru diminta tunduk kepada Aceh.
Daniel Perret mengatakan bahwa, sembari merujuk pada penulis Perancis F. Mendes Pinto dalam buku “chez Cotinet et Roger” (1645), masyarakat Aru dan rajanya adalah muslim. Dan dalam kutipan dari “Hikayat Melayu” dan “Hikayat Raja-raja Pasai”, Kerajaan Aru atau Haru disebut sudah menganut Islam pada pertengahan abad 13; lebih dahulu ketimbang Aceh dan Malaka.
Penaklukan dari kerajaan Aceh dari puing Kerajaan Aru II, meski digempur hebat, menurut Zainal Arifin dalam buku “Subuh Kelabu di Bukit Kubu” (2002) yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Langkat, petinggi Aru yang tersisa melarikan diri ke Kota Rentang Hamparan Perak, Deli Serdang Sumatera Utara dan mendirikan kerajaan baru dengan rajanya yang bernama Dewa Syahdan (1500-1580). Kerajaan inilah yang kemudian melahirkan Kerajaan Langkat.
Setelah Dewa Syahdan wafat, Kerajaan Langkat kemudian dipimpin oleh anaknya, Dewa Sakti, yang memerintah dari tahun 1580 takat tahun1612. Pada tahun 1612, Dewa Sakti yang bergelar Kejuruan Hitam ini dikabarkan hilang (tewas) dalam penyerangan yang kembali dilakukan oleh Kerajaan Aceh.
Selanjutnya Sultan Abdullah yang banyak disebut dalam literatur, kemudian wafat dan dimakamkan di Buluh Cina, Hamparan Perak dengan gelar Marhum Guri. Kemudian tahta Kerajaan Langkat jatuh pada anak Sultan Abdullah, yakni Raja Kahar (1673-1750). Di zaman Raja Kahar, pusat Kerajaan Langkat dipindahkan dari Kota Rentang Hamparan Perak ke Kota Dalam Secanggang.
Tak hanya itu, Raja Kahar juga melakukan banyak perubahan, baik dalam manajemen negara, maupun kepemimpinan. Perubahan itu menurut Zainal Arifin, membuat sejumlah kalangan lantas menetapkan bahwa ialah pendiri Kerajaan Langkat pada 17 Januari 1750 dan dijadikan hari Jadi Langkat.






